14 Februari 2026

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Pemkab Lampung Timur Gelar Dialog Penanganan Konflik Gajah–Manusia di Desa Penyangga TNWK

Spread the love

Lampung Timur, Tren24reportase.com – Pemerintah Kabupaten Lampung Timur menggelar Dialog Penanganan Dampak Interaksi Gajah dengan Warga Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Senin (12/1/2026), bertempat di Aula Utama Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Timur. Dialog ini menjadi wadah resmi bagi masyarakat untuk menyampaikan keresahan yang telah mereka alami selama bertahun-tahun akibat konflik gajah dan manusia.

Konflik yang terus berulang di desa-desa penyangga TNWK tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, tetapi juga menimbulkan trauma mendalam bagi warga. Puncak tragedi terjadi dengan meninggalnya Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, saat menghadapi konflik gajah, yang semakin menguatkan tuntutan masyarakat akan jaminan keselamatan dan solusi nyata dari pemerintah dan pihak terkait.

Dialog tersebut dihadiri unsur Forkopimda Lampung Timur, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, perwakilan Balai TNWK, serta para kepala desa dari wilayah terdampak. Kehadiran para pemangku kepentingan ini diharapkan mampu menjembatani kepentingan konservasi satwa dengan hak dasar masyarakat untuk hidup aman dan sejahtera.

Koordinator umum masyarakat, Budi Setiyawan, menyampaikan bahwa warga telah terlalu lama hidup dalam ancaman gajah liar. Menurutnya, setiap malam masyarakat dihantui rasa takut akan keselamatan keluarga serta kerusakan lahan pertanian yang menjadi sumber utama penghidupan.
Konflik ini sudah berlangsung lama dan terus berulang. Kerugiannya bukan hanya materi, tapi juga nyawa. Kami ingin penyelesaian yang nyata, bukan sekadar wacana,tegas Budi di hadapan peserta dialog.

Dalam forum tersebut, masyarakat menyampaikan tiga tuntutan utama kepada pihak TNWK, yakni penghentian konflik gajah dan manusia di lahan milik warga, pertanggungjawaban atas kerugian yang dialami masyarakat, serta kejelasan tanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa akibat konflik tersebut.

Menanggapi aspirasi warga, Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menegaskan bahwa keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama pemerintah daerah. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dalam menghadapi persoalan yang menyangkut nyawa warganya.

Pemerintah daerah hadir untuk melindungi masyarakat. Keselamatan warga adalah yang utama, namun konservasi satwa juga harus tetap berjalan. Karena itu, sinergi semua pihak sangat diperlukan agar tidak ada lagi korban,ujar Ela.

Sementara itu, Direktur Konservasi Kawasan Kementerian Kehutanan, Sapto Aji Prabowo, memaparkan sejumlah langkah mitigasi yang akan dilakukan untuk menekan konflik gajah dan manusia. Salah satu upaya konkret yang direncanakan adalah pembangunan parit penghalau serta tembok penahan dengan ketinggian tertentu di wilayah rawan konflik.
Upaya fisik ini diharapkan dapat mencegah gajah masuk ke permukiman dan lahan pertanian warga, sehingga konflik dapat diminimalisir,jelas Sapto.

Melalui dialog ini, masyarakat berharap tidak hanya menerima janji, tetapi juga aksi nyata yang berkelanjutan. Warga desa penyangga TNWK ingin hidup berdampingan dengan alam tanpa harus mengorbankan keselamatan, rasa aman, dan sumber penghidupan mereka.   (Decxy)

About Post Author