Semarang, Tren24Reportase.com — Empat mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) merancang T-SYARA, sebuah sarung tangan pintar yang ditujukan untuk menjembatani komunikasi antara penyandang tunawicara dan masyarakat umum. Inovasi tersebut mampu menerjemahkan gerakan bahasa isyarat menjadi teks dan suara secara langsung.
T-SYARA merupakan proyek Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) yang dikembangkan oleh Doni Abil Anggara Putra sebagai ketua tim bersama Zakliy Noval Labib, Rangga Ichsani Hadi Syahputra, dan David Bastian, di bawah bimbingan dosen Muhammad Sam’an.
David Bastian menjelaskan, gagasan pengembangan T-SYARA berawal dari hasil observasi terhadap siswa di sejumlah sekolah luar biasa di Kota Semarang. Dari pengamatan tersebut, tim melihat adanya tantangan komunikasi yang berpotensi membuat penyandang tunawicara mengalami kesulitan ketika berinteraksi dengan masyarakat yang tidak memahami bahasa isyarat.
“Takutnya nanti ketika dewasa, itu mentalnya down ketika bertemu dengan masyarakat luas. Kita mau bicara karena tidak paham, jadi nanti dianggurkan atau bahkan diabaikan atau disisihkan,” ungkap David saat di Panti asuhan Al- Hamdan Semarang. Minggu- (6-9-2026).

Berangkat dari persoalan tersebut, tim kemudian merancang sarung tangan pintar yang dapat menerjemahkan gerakan bahasa isyarat ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami masyarakat umum. Dengan demikian, T-SYARA diharapkan dapat menjadi media komunikasi yang membantu mengurangi hambatan interaksi antara penyandang tunawicara dan orang yang belum memahami bahasa isyarat.
“Tim kami memilihkan ada sarung tangan yang bisa membaca gerakan bahasa isyarat dan kemudian munculnya suara yang sesuai dengan isyaratnya. Tidak hanya suara, tapi kita juga menambahkan output teks yang bisa ditampilkan,” jelasnya.
Secara teknis, T-SYARA mengintegrasikan mikrokontroler ESP32, sensor gerak atau Inertial Measurement Unit (IMU) MPU6050 yang ditempatkan di bagian pergelangan tangan, serta lima sensor tekuk jari atau flex sensor. Kombinasi sensor tersebut digunakan untuk membaca posisi dan gerakan tangan saat pengguna membentuk bahasa isyarat.
Data dari sensor kemudian diproses oleh sistem untuk mengenali gerakan huruf dalam Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). Hasil pengenalan selanjutnya dikirimkan ke dashboard berbasis web sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk teks secara real-time dan dilafalkan melalui pengeras suara ponsel.
“Huruf-huruf yang terdeteksi dari gestur itu akan langsung dikirim ke dashboard di ponsel pintar secara real-time hingga merangkai sebuah kata. Nah, begitu kata selesai dirangkai, sistem akan otomatis melafalkannya secara lisan lewat pengeras suara ponsel,” jelas David.
Dari sisi penggunaan, T-SYARA dirancang agar praktis dan tidak membutuhkan instalasi aplikasi khusus. Pengguna cukup mengenakan sarung tangan pada tangan dominan, kemudian menghubungkannya dengan jaringan Wi-Fi atau hotspot dari ponsel.
Setelah proses kalibrasi awal dilakukan, pengguna dapat membuka peramban seperti Google Chrome dan memasukkan alamat dashboard web yang ditampilkan pada layar OLED kecil di bagian pergelangan sarung tangan. Melalui dashboard tersebut, hasil penerjemahan gerakan dapat dipantau secara langsung.
Dalam proses pengembangannya, tim sempat mengalami kendala dalam menentukan sensor yang mampu membaca gerakan jari secara akurat. Pada tahap awal, tim menggunakan sensor Passive Infrared (PIR), tetapi sensor tersebut dinilai kurang sesuai untuk mendeteksi pergerakan masing-masing jari.
“Sensor yang kita pakai awalnya PIR, ternyata tidak sesuai pengakurasian sensor per jari. Kemudian kita coba temukan flex sensor yang bagus. Akurasinya juga lumayan tinggi dan bisa lebih detail setiap pergerakannya,” tutur David.
Setelah melalui sejumlah pengembangan, prototipe T-SYARA kemudian diuji coba secara langsung kepada tenaga pendidik di sekolah sosial dan sekolah luar biasa. Uji coba tersebut mendapat respons positif karena dinilai memiliki potensi untuk membantu komunikasi penyandang tunawicara dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita uji cobanya di sekolah sosial serta sekolah luar biasa. Dan Alhamdulillah, gurunya suka. Kata beliau, kalau bisa alat ini lebih dikembangkan dan didistribusikan karena sangat berguna untuk tunawicara,” katanya.
Sementara itu, dosen pembimbing Muhammad Sam’an mengapresiasi inovasi yang dikembangkan oleh para mahasiswa tersebut. Menurutnya, T-SYARA menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimanfaatkan untuk menjawab persoalan sosial, khususnya dalam menciptakan akses komunikasi yang lebih inklusif bagi penyandang difabel.
“Inovasi T-SYARA ini bukan sekadar tugas akademik, tetapi sebuah bentuk empati yang diterjemahkan ke dalam teknologi inklusif. Saya sangat mengapresiasi kerja keras tim yang gigih mengintegrasikan sistem kecerdasan buatan dengan perangkat wearable, demi memberikan hak komunikasi yang setara bagi kawan-kawan difabel,” ujar Sam’an.
Ke depan, tim berharap T-SYARA tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi perangkat yang lebih ringkas, praktis, mudah digunakan, dan terjangkau oleh masyarakat. Pengembangan lebih lanjut juga diharapkan dapat membuka peluang produksi secara massal sehingga manfaat teknologi tersebut dapat dirasakan oleh lebih banyak penyandang tunawicara.
“Harapan yang paling kami inginkan itu, ke depannya sarung tangan ini bisa dikembangkan lagi sehingga benar-benar ringkas, desainnya jauh lebih praktis, dan sangat mudah dibawa serta bisa diproduksi dalam skala besar,” pungkasnya. (Parno)
More Stories
Bupati Eisti’anah Sampaikan Jawaban atas Pandangan Umum Fraksi DPRD terhadap Raperda Perubahan APBD Demak 2026
DPRD Demak Bahas Raperda Perubahan APBD 2026, 6 Fraksi Beri Masukan
Hubungan 6 Tahun Berakhir Tragis, Wanita Dibunuh dan Dibakar di Demak