10 Juni 2026

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Panen Raya 100 Hektare di Demak, Tani Merdeka Dorong Swasembada Pangan dan Serapan Hasil Petani

Spread the love

 

Demak, Tren24reportase.com – Pemerintah bersama petani dan berbagai pemangku kepentingan menggelar panen raya padi di lahan seluas lebih dari 100 hektare di Desa Jatirejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (8/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat swasembada pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman musim kemarau.

Panen raya tersebut dihadiri Bupati Demak Eisti’anah, perwakilan pemerintah daerah, unsur Kementerian Koordinator Bidang Pangan, organisasi petani, serta kelompok tani setempat.

Bupati Demak Eisti’anah mengatakan hasil panen padi musim tanam II di Kabupaten Demak menunjukkan capaian yang menggembirakan. Produktivitas padi rata-rata mencapai 6,7 ton per hektare dengan harga gabah yang dinilai cukup baik di tingkat petani.

“Alhamdulillah hasilnya bagus, harganya pun juga bagus. Rata-rata satu hektare mencapai 6,7 ton,” ujar Eisti’anah saat menghadiri kegiatan panen raya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP Tani Merdeka Indonesia, Don Marzuki, menjelaskan bahwa panen raya dilakukan seiring tibanya musim panen dan kondisi lahan yang mulai mengering menjelang musim kemarau. Menurutnya, produktivitas lahan di sejumlah lokasi panen bahkan mencapai sekitar delapan ton per hektare.

“Hasil panen langsung diserap oleh Food Station sebagai salah satu BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kehadiran off-taker seperti ini menjadi jembatan antara petani dan pasar sehingga hasil panen dapat terserap dengan baik,” ujar Don Marzuki.

Ia menegaskan bahwa keberadaan off-taker memiliki peran penting dalam memberikan kepastian pasar sekaligus menjaga stabilitas harga hasil pertanian. Karena itu, pihaknya berharap semakin banyak perusahaan swasta yang ikut terlibat dalam menyerap hasil panen petani, tidak hanya pemerintah maupun Bulog.

“Kita berharap semakin banyak off-taker yang dapat menampung hasil panen petani sehingga petani memiliki kepastian pasar dan memperoleh harga yang menguntungkan,” katanya.

Terkait target swasembada pangan, Don Marzuki menegaskan bahwa seluruh pihak harus tetap waspada terhadap dampak perubahan iklim, terutama potensi El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Oleh sebab itu, petani, kelompok tani, dan pemerintah daerah perlu bersama-sama menjaga ketersediaan air agar produktivitas pertanian tidak menurun.

“Semua pihak mendukung, mulai dari pemerintah daerah, kementerian, penyuluh pertanian, organisasi petani, kelompok tani hingga kepala desa. Semua bahu-membahu menjaga dan mempertahankan swasembada pangan, khususnya beras,” ujarnya.

Selain itu, hasil dialog dengan petani menunjukkan bahwa ketersediaan pupuk saat ini relatif aman. Namun, petani masih berharap adanya peningkatan infrastruktur irigasi, ketersediaan alat dan mesin pertanian modern, serta kecukupan pupuk untuk mendukung intensitas tanam yang tinggi.

Sementara itu, Ketua Tani Merdeka Kabupaten Demak, Nur’ari Khasanah, mengatakan pihaknya terus berupaya mendampingi petani dan gabungan kelompok tani (gapoktan) agar produktivitas pertanian terus meningkat. Berbagai aspirasi dan keluhan petani juga akan dihimpun untuk diteruskan kepada pemerintah dan pemangku kebijakan terkait.

Menurut perempuan yang akrab disapa Mbak Ana itu, varietas padi yang paling banyak dibudidayakan petani di Kabupaten Demak adalah IR64 dan Ciherang. Kedua varietas tersebut masih menjadi pilihan utama karena dinilai sesuai dengan kondisi lahan pertanian setempat serta memiliki produktivitas yang baik.

Nur’ari menambahkan, harga gabah saat ini sangat menguntungkan bagi petani. Harga gabah di tingkat petani bahkan telah mencapai lebih dari Rp8.000 per kilogram, jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.

“Petani memang sangat diuntungkan karena harga saat ini jauh lebih tinggi dari HPP pemerintah. Harga gabah sudah mencapai lebih dari Rp8.000 per kilogram,” ujarnya.

Sebagai pelaku usaha penggilingan padi, Nur’ari menilai kondisi tersebut tidak hanya memberikan keuntungan bagi petani, tetapi juga mendorong terciptanya kolaborasi yang semakin kuat antara petani dan pelaku usaha penggilingan dalam mendukung program swasembada pangan nasional. (Parno)

About Post Author