16 Juni 2026

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Zayinul Fata: Perempuan Harus Ada di Meja Rapat Pesantren

Spread the love

 

Demak, Tren24reportase.com – Ratusan tokoh perempuan Nahdlatul Ulama (NU) dari unsur Muslimat dan Fatayat se-Kabupaten Demak, Jawa Tengah menghadiri diskusi bertema transformasi pesantren bersama Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Demak, Zayinul Fata, di Rumah Dinas Ketua DPRD Demak, Minggu (1/3/2026).

Sekitar 200 peserta hadir dalam forum tersebut untuk membahas penguatan peran perempuan dalam manajemen pesantren sekaligus peningkatan kualitas hidup santriwati.

“Hari ini 200 tokoh perempuan NU, baik dari Muslimat maupun Fatayat se-Kabupaten Demak, berkumpul di sini untuk bicara transformasi pesantren. Kita ingin mengubah wajah pesantren, dan itu tentu butuh peran para perempuan,” ujar Zayinul Fata usai acara.

Ia menegaskan, pembenahan pesantren agar lebih modern, sehat, dan manusiawi tidak akan berhasil tanpa keterlibatan aktif perempuan. Menurutnya, sentuhan dan kepedulian perempuan sangat penting, terutama dalam aspek kebersihan, sanitasi, dan kesehatan di lingkungan pondok.

“Kita harus jujur dan terbuka. Kadang masalah sanitasi atau air bersih di pondok putri kurang diperhatikan. Dampaknya bisa muncul penyakit kulit atau persoalan kesehatan reproduksi. Karena itu, saya minta ibu-ibu lebih peduli dan tegas soal kebersihan kamar mandi serta ketersediaan air bersih,” tegasnya.

Selain isu kesehatan, Zayin juga menyoroti pentingnya kesetaraan peran perempuan dalam struktur kepengurusan pesantren. Ia menilai perempuan tidak boleh hanya ditempatkan pada peran domestik semata, seperti urusan konsumsi atau dapur umum.

“Perempuan jangan hanya dianggap ‘kanca wingking’ yang tugasnya sekadar memasak untuk santri. Perempuan harus ada di meja rapat dan ikut menentukan kebijakan strategis. Kalau perempuan dilibatkan, tata kelola pesantren akan lebih rapi, transparan, dan ramah anak,” ujarnya.

Dalam diskusi yang berlangsung interaktif tersebut, turut dibahas pentingnya pembekalan keterampilan (skill) bagi santriwati, termasuk literasi digital dan kewirausahaan. Zayin berharap pesantren mampu mencetak generasi santriwati yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mandiri secara ekonomi dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Pesantren harus menjadi ruang aman dan memberdayakan bagi perempuan. Santriwati harus percaya diri, sehat, terampil, dan siap menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya. (Parno)

About Post Author