23 Mei 2024

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Resah Dengan Aroma BBM Pertamina, Masyarakat Minta Presiden RI Turun Tangan

Spread the love

Medan, tren24reportase.com – Warga masyarakat lingkungan 19 dan 21 Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan kota Madya Medan Provinsi Sumatera Utara (Masyarakat yang tinggal radius 25 meter dari batas tembok) kecewa dengan Pertamina Labuhan jalan KL Yos Sudarso KM 19,3. Pasalnya hingga sampai sekarang pihak Pertamina Labuhan tersebut belum mampu atasi aroma BBM yang resahkan warga. Kamis (18/08/2022) pukul 16.00 Wib.

“Kami masyarakat yang tinggal dekat dengan tembok Pertamina Labuhan minta kepada bapak Presiden RI mendengarkan dan menindaklanjuti keluhan kami. Bertahun-tahun kami merasakan aroma BBM yang sangat menggangu. Kami juga sangat khawatir atas bahaya kebakaran dari Pertamina yang senantiasa mengancam keselamatan kami”.

Demikian dikatakan Upik (56) warga lingkungan 21 Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan.

Menurut Upik, sebagai solusi hindari aroma BBM, warga sudah mengajukan pembebasan tanah dan rumah ke Pertamina, tapi tertolak.

“Kalau Pertamina tidak mampu atasi aroma BBM ke lingkungan masyarakat, harusnya Pertamina bebaskan tanah dan rumah kami, dan itu sudah kami mohonkan tertulis, tapi hasilnya nol. Nanti kalau masyakarat ribut disalahkan, baik-baik tidak disahuti serius, maunya apa Pertamina”, kata Upik yang diaminkan puluhan warga lainnya.

Dari hasil Pantauan tren24reportase.com di lapangan, batas pagar tembok Pertamina Labuhan dengan pemukiman warga berkisar 2 meter. Aroma BBM dari Pertamina Labuhan sangat dirasakan ketika tengah malam, dini hari, hingga subuh.

Kebakaran di Pertamina Labuhan pernah terjadi beberapa tahun lalu, ribuan masyarakat kocar kacir cari perlindungan, bahkan sampai ada yang jatuh pingsan. Masyarakat di sana troma atas kejadian tersebut.

Pihak Pertamina Labuhan yang diwakili Hanafi Akmar belum dapat berikan solusi atas keluhan masyarakat tersebut.

“Soal aroma BBM tidak bisa diukur dengan penciuman hidung, karena penciuman itu berbeda-beda. Kalau masyarakat keberatan ya kita mau gimana”, kata Hanafi Akmar Kamis (18/08/2022) saat menerima perwakilan masyarakat. (Man)

About Post Author