19 Agustus 2022

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Tak Terima Diberitakan, Oknum Kasek SMPN 2 Mandiraja Sebarkan Photo Bernarasi “Hoax”

Spread the love

Banjarnegara, Tren24reportase.com – Para Wartawan Media cetak & online Reportase Nasional Group mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari Kepala Sekolah SMP N 2 Mandiraja Kab. Banjarnegara saat melakukan wawancara soal diduga telah menjadikan PPDB menjadi Ajang Bisnis dilingkungan sekolah setempat.

Pada saat sedang klarifikasi soal terkait pemberitaan sebelumnya dan penyebaran photo awak media Tren24Reportase.com (Reportase Nasional Group) yang bernarasi “HOAX”, kepala sekolah menyebut jika wartawan bagi dunia pendidikan itu adalah sebuah momok yang menakutkan”, ungkap Kepsek.

Mendengar perkataan itu para wartawan Media Reportase Nasional Group menganggap apa yang diucapkan oleh Kepala Sekolah SMP N 2 Mandiraja Kab. Banjarnegara terlalu arogan”.

Namun saat ditanya kenapa wartawan bisa menjadi momok yang menakutkan bagi dunia pendidikan seperti apa yang dikatakanKasek SMPN 2 Mandiraja itu, namun beliau mengalihkan pembicaraan.

Tak hanya itu, Kepsek SMP N 2 Mandiraja juga tidak terima dengan adanya pemberitaan yang mengatakan bahwa SMPN 2 Mandiraja telah menjadikan PPDB adalah sebuah ajang cari untung, “Berita itu Hoax, Kalian merekam dan mengambil foto saya tanpa adanya izin itu sudah melanggar kode etik” ucap Supono.

Diberitakan sebelumnya, SMPN 2 Mandiraja diduga masih mengeluarkan kebijakan yang makin memberatkan beban perekonomian wali murid. Bahkan tak tanggung-tanggung PPDB dijadikan ajang bisnis dimana setiap wali murid dibebankan untuk menebus Seragam berbentuk “BAHAN KAIN MENTAH” belum berbentuk baju maupun celana sebesar Rp. 1.000.000.

Hal tersebut sangat memberatkan para wali murid dikarenakan mereka masih harus mengeluarkan uang untuk biaya menjahit “BAHAN KAIN MENTAH” Tersebut agar bisa berbentuk baju Seragam sekolah untuk anak-anak mereka.

Terlebih imbas pandemi Covid-19, memang cukup membuat lesu seluruh sendi perekonomian.

“Kalau boleh jujur kami sangat keberatan. Tapi bagaimana lagi, jika tidak membayar anak kami tidak mempunyai seragam,” ucap salah satu wali murid SMPN 2 Mandiraja. (Ratih/Nda).

About Post Author