4 Juli 2022

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Warga Desa Nelelamadike Rombongan Terbanyak Memadati Perkampungan Helanlangowuyo

Spread the love

Tren24reportase.com, Flores Timur-Jadwal Proses Rekonsiliasi bagi seluruh Desa sewilayah Lamaholot yang mengakui Kesalahan atas peristiwa masa lalu di Puncak Gunung Boleng yang diyakini oleh seluruh Baniadam Lamaholot, bahwa Murka Leluhur lewat Bencana Alam yang kita Kenal sebagai Musim Siklon Seroja menurut BMKG di Indonesia.

Menolak lupa bahwa staf dari BMKG pusat Jakarta Tidak Mampu menjelaskan lewat logika ilmu pengetahuan, bahkan dalam proses pencarian korban dengan mendatangkan tiga ekor Anjing Pelacak kelas Internasional pun tidak menghasilkan apa-apa, hingga Tim SAR bersama Anjing Pelacak kembalikan misi pencarian korban kepada Kearifan Lokal.

Berkaca dari peristiwa Bencana ini, Masyarakat Lamaholot dengan keyakinan bahwa atas murka alam yang dihadapi kali kedua warga Nelelamadike ini tak pelak lagi diabaikan, hingga langkah Rekonsiliasi yang di bangun demi terciptanya kenyamanan kehidupan yang akan datang dengan melakukan permohonan ampun atas kesalahan yang telah dilakukan di puncak Gunung Boleng tadi yang kita sebut dalam bahasa Lamaholot “Soba Matun Amet Prat ” .

Peristiwa akbar ‘Soba Matun Amet Prat ‘ ini harus melibatkan Tuan Tanah sebagai Tokoh Masyarakat dalam sebuah Kampung atau ‘Lewo’ . Untuk itu segala persiapan membutuhkan kerja keras demi kemurnian tatanan Budaya Adat Lamaholot, seperti seratus Ekor Kambing yang diwujudkan Ayam kampung dengan tujuh Tempayan air Siwalan diwujudkan dengan ‘Tuak’ .

Dalam sapaan Adat yang dibawakan oleh Kepala Desa Nelelamadike Pius Pedan Melai , menyampaikan Permohonan Ampun kepada Leluhur Pemilik Ile Langowuyo Ola ile yang diwariskan kepada Baniadamnya ‘Pelate Ketuk’ . Di tengah jalannya Ritual Adat ‘Soba Matun Amet Prat’ sedikit terhenyak dengan empat orang warga Nelelamadike rebah seketika alias pingsan saat berjalannya Ritual . “Basilia(24), Yoris(12), Kristo(25) dan Rius (21) memang karena kurang istirahat lantaran intensitas waktu pra kondisi dari tanggal 2 dan 3 April kami seluruh masyarakat Nelelamadike berpusat di Kampung adat kami hingga larut malam serta tadi pagi jam 6 harus sudah berkumpul lebih awal, dan juga stamina anak muda ini pun menjadi berkurang hingga mereka ambruk tak sadarkan diri”,urai ketua BPD Stefanus Ola Bura kepada awak media tren24reportase.com usai Ritual Amet Prat di halaman depan Rumah Adat ‘Ile Woka’ Helanlangowuyo .(Naragere Bernard.)