4 Juli 2022

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Proses Pengakuan Dosa Versi Budaya Lamaholot

Spread the love

Flotim, Tren24reportase.com-Bertepatan dengan Bencana Seroja Melanda Nusantara kita setahun lewat, tepatnya 04 April 2021 lalu yang merenggut Puluhan nyawa Manusia di Kepulauan Adonara kala itu. Dalam sambutan Kepala Desa Nelelamadike Pius Pedan Melai mewakili Tokoh Masyarakat untuk menyampaikan Maksud dan Niat yang mulia terhadap Proses seremonial dalam Ritus Adat Budaya Lama Holot hari ini Senin 04 April 2022 . “Saya mewakili Tokoh Adat Bapak Ola Mangu beserta seluruh Masyarakat Lama Nele Desa Nelelamadike menyampaikan maaf beribu maaf atas apa yang telah dilakukan di puncak Gunung yang sesungguhnya areal ini diyakini secara turun-temurun dalam kisah Budaya Adat Lama Holot dan sesungguhnya titik-titik sakral dengan segala bukti puing-puing yang masih ada hingga kini, namun dengan kurangnya pengetahuan warga masyarakat saya , telah melakukan Kesalahan di puncak Gunung hingga ke 71 orang ini datang hari ini demi melakukan Ritual Adat “Amet Prat” Hari ini “,ujar pius Pedan di hadapan khalayak Desa Helanlangowuyo.

Pada kesempatan berikut Sambutan Tokoh Adat Desa Helanlangowuyo Kecamatan lle Boleng Dominikus Daton Doni mengenang kembali peristiwa memilukan melanda Adonara khususnya Desa Nelelamadike, terdata 56 korban jiwa dari 76 korban terjadi saat itu namun masih ada satu orang korban di Kecamatan Wotan Ulu Mado Desa Oyan Baran dinyatakan hilang hingga tahun ini, dan lewat kesempatan ini saya menyampaikan bahwa jika Ritual yang dilakukan oleh ke-15 Suku Di Desa Helanlangowuyo ini adalah “Bukan Tupoksi yang telah Dinobatkan”, maka Orang Tua saya ini tidak mungkin masih bersama kita hari ini, dan perlu diketahui bahwa Gunung ini adalah milik kita semua di tanah Lamaholot ini namun harus diakui bahwa pemiliknya ada di rumah ini, jika dari 112 Desa yang menyebar di daratan Adonara ini mengatakan Milik Mereka maka silahkan datang dan kita berdiskusi bersama dan barangkali orangtua saya bisa menyampaikan bahwa Kami sudah capek dan lelah jadi giliran kalian dulu”,tutur Daton Doni dengan menghantarkan sebuah cerita bahwa isyu berkembang di desa Nelelamadike bahwa Ritus yang sudah dijalankan oleh Leluhur kami ini adalah milik orang Witihama, hingga saya menyampaikan bahwa silahkan datang ke Desa saya Helanlangowuyo untuk kita Berdiskusi bersama , tutup Daton Doni mengakhiri Sambutannya.

Beranjak ke Pesan Moral dari Romo Hendrikus Raya Kleden, beliau mengatakan bahwa “Rangkaian Ritual hari ini yang menunjukan bahwa kehidupan orang Lamaholot sungguh telah menerapkan nilai kehidupan mereka dengan mengajarkan kepada kita bahwa Tatanan mereka dan dalam keseharian mereka sungguh mengajarkan kepada kita generasi saat ini bahwa ketiga tata aturan kehidupan ini adalah tatanan Adat Menjadi Budaya kita, Tatanan aturan dalam ke-15 Suku ini mengingatkan kita pada Pemerintahan dalam sebuah Negara dan yang ke tiga saat mereka melakukan “Bau’ Lolon” Menunjukan kepada kita bahwa Leluhur kita sudah punya ‘Agama’ “,urai Romo Hendra.

Kembali dilanjutkan bahwa “Saya bersama Romo Ansel dan Romo Anton bahwa Kami ini lahir dan tumbuh dari rahimnya ‘Budaya’ hingga kami bertugas di Ile Boleng ini menyaksikan dan melihat dari kacamata iman katolik maka inti dari peristiwa hari ini adalah ” KODA” dalam bahasa Lamaholot dan dalam bahasa injil adalah “SABDA”,untuk itu mari kita praktekan dan aplikasikan dalam keseharian hidup kita agar Ekologi Budaya kita ini tetap dan terus kita jaga dan merawatnya bersama-sama”, tutup Romo Hendra dengan gaya khasnya ala berkhotbah di mimbar Gereja .(Naragere Bernard)