2 Juli 2022

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

AW Diduga Terima Suap Perkara Pembuatan Miras, Mahmudi ; Tidak Benar Itu !!!

Spread the love

Pati, Tren24reportase.com – Putusan sidang kasus produksi miras di desa Tegalharjo, kecamatan Trangkil, kabupaten Pati, Jawa Tengah diduga ada Penggelontoran sejumlah nominal Uang dari Masripah untuk salah satu Jaksa di Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati.

Dilansir dari Radarkudus (Jawapos.com), Kuslik, tersangka kasus tempat pembuatan minuman keras (Miras) oplosan di wilayah Trangkil, Pati belum lama ini telah diputus hukuman penjara selama 1,2 tahun. Tersangka menyebutkan bahwa AW selaku Kasidatun Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati telah menerima uang suap dari Kuslik.

Kuslik mengaku sudah ada deal dengan nominal Rp. 20.000.000., untuk pengurangan masa kurungan penjara. Ia mengatakan, tuntutan hukum dari Pengadilan Negeri (PN) Pati 10 bulan penjara.

Akan akan tetapi, putusannya 1,2 tahun. ”Padahal tuntutannya 10 bulan. Tapi putusannya kok malah 1,2 tahun. Malah ngetril,” ujar Kuslik usai vonis beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Kuslik mengaku telah memberikan uang sebesar Rp. 20.000.000 kepada pihak Kasidatun Kejari Pati melalui rekannya Masripah. Uangnya, diberikan langsung di ruangannya.

”Rekan saya memberikan uang sebesar Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah, red) di ruangan AW selaku Kasidatun Kejari Pati. Tapi tak diterima langsung. Melainkan, diletakkan di bawah mejanya,” tukasnya.

Pemberian uang itu pun tak langsung diterima. Artinya, sempat ada penolakan empat kali dalam masa sidang di pengadilan.

”Pertama kali, kasi datun, saya kasih uang menolak. Balik empat kali tidak terima. Katanya, menunggu hakimnya. Uang baru diterima saat usai sidang saksi ahli pada Januari lalu. Yang menerima dia sendiri di ruangannya,” katanya.

Besaran itu pun tergantung pengurangan masa penjara. Lanjut dia, jika tiga bulan seharga Rp 80 juta. Jika 6-7 bulan Rp 45 juta.

”Waktu itu minta Rp. 45.000.000., tapi saya tidak mampu. Akhirnya deal dengan nilai Rp. 20.000.000., dengan alih-alih putusan hukuman penjara maksimal 6-7 bulan kurungan,” ungkapnya.

Padahal para saksi ahli saat sidang mengatakan, teguran dan pembinaan, tetapi ternyata mendapat tuntutan 10 bulan,” lanjutnya.

Sidang pun sempat ditunda sekali. Dia mencurigai adanya penundaan itu.

Harapanya, uangnya dikembalikan, ujarnya. Kasidatun yang janji dan bersepakat akan itu.

Saat dikonfirmasi, Kasi Datun Kejari Pati Andri Winanto membantah pengakuan dari tersangka itu. Dia tak pernah mendapatkan uang dari pihak tersangka. Menurutnya, tidak mungkin negosiasi seperti itu dilakukan.

Terkait hal itu tidak ada mas. Saya tidak pernah berhubungan dengan M. Kalau kata tersangka memberikan uang Rp 20.000.000 di bawah meja tidak ada itu. Lagi pula Koslik itu kan residivis. Kalau hukuman di bawah enam bulan tidak logika,” ujarnya ketika diwawancarai kemarin.

Ditempat terpisah, T24R mengkomfirmasi Mahmudi selaku Kajari Pati terkait viralnya pemberitaan tersebut, mengatakan “tidak benar itu mas, dan untuk lebih lengkapnya silahkan untuk mengklarifikasi ke JPU ( Jaksa Penuntut Umum) nya saja, pungkas Mahmudi lewat pesan whatsapp (20/3/22). (BJB)