7 Juli 2022

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Plate Ketu Pewaris Kesulungan Pemberi Makan Leluhur Ile Langowuyo

Spread the love

Tren24reportase.com | Adonara Flores Timur-Bani Adam ‘Ola ile’ yang kini bereinkarnasi lewat anak ke tiga dari Penjaga Gunung Boleng Paulus Laga Ama yakni ‘Plate Ketu’ ini, walau masih di bawah umur alias kanak-kanak namun karena menyandang nama leluhur posisi sulung dari garis keturunan ‘Ola ile’ ini dalam melakukan proses ritual memberi makan leluhur di dalam perut gunung boleng adalah hal mutlak tak terbantahkan.

Dalam proses panjang ritual adat di Desa Helanlangowuyo Kecamatan lle Boleng ini baru masuk ke 26 Desa yang mana sebelumnya berjumlah 79 desa yang telah datang dan mengakui kesalahan mereka sebelumnya yang membuat Murka Leluhur di puncak gunung boleng pada tahun tahun sebelumnya.

Semua Desa yang telah dijadwalkan hingga Desember 2022 nanti baru tertampung ritual ‘Permohonan Maaf dan sekaligus memberi makan Leluhur Penghuni Gunung Boleng saat kini.Seperti pantauan media tren24reportase.com hari ini, Rabu 13 oktober 2021 ini dari kedua Desa Bayun Ta’a dengan desa Riawale yang mana pada masa silam sekitar 1959 telah terjadi konflik berdarah hingga baru pada momentum ‘Amet praààt atau penyampaian Ma’af inilah kedua Desa ini jadi bersatu hati untuk mendatangi para sesepuh adat di desa Helanlangowuyo, dan ternyata lewat kesempatan ini pula kedua Desa ini jadi akur kembali seperti sedia kala.

Hikmah dari murka leluhur datang dengan predikat Bencana Badai Tropis Seroja pada April lalu, mencatat sejarah baru atas pola penerapan serta merefleksikan beberapa Desa kembali bersatu tekad untuk harus berdamai demi kepentingan yang jauh lebih luhur dan mulia yakni membayar seluruh kesalahan warga masyarakatnya yang telah salah gunakan berwisata di puncak Gunung Boleng sebelumnya dan sebagai warga masyarakat Adat mesti menjalankan dan menunaikan untuk memberi makan leluhur di puncak Gunung Boleng .

Tradisi turun temurun yang diwariskan leluhur terhadap bani adamnya ini menjadi perhatian dunia.Dalam sambutan kadis Pariwisata Flotim Petrus Pemang Liku,S.Sos. MT ini menyampaikan bahwa “Kita orang Lamaholot mestinya harus menjaga dan merawat lingkungan dengan baik dan benar agar anak cucu kita pada suatu hari kelak tidak terjadi konflik berkepanjangan”, tegas pemang liku dihadapan masyarakat dari desa Bayun Ta’a dengan Riawale.

Usai ritual fase acara pertama selesai para punggawa suku Lango wuyo berdiskusi bersama dengan rombongan dari DIPARDA Flotim guna mencari jawaban atas beberapa pertanyaan. Terhadap sesepuh Desa Helanlangowuyo pak Silvester,S.Sn berpendapat atas pantang larang serta congklak atau ‘Kemoti” yang berada di sekitar tempat ‘pemujaan’ ini, Laga Aman menjelaskan sesuai apa yang diwariskan oleh leluhurnya bahwa 1. Kenapa Wanita Tidak boleh ikut pada saat proses memberi makan Gunung, dengan penuh diplomatis Paulus Laga menguraikan bahwa ” Memang titah leluhur sudah demikian adanya hingga saya melakukan sesuai, dan jika apa yang saya lakukan ini terbukti senantiasa sudah ada sinyal lewat mimpi tidur malamku juga bakal saya lebih mengetahuinya”,terang Ama Laga .

Terkait pantang larangan di atas puncak gunung senantiasa Paulus Laga terus menyampaikan setiap kali ada melakukan proses ‘Amet prat’ ini terjadi . Berikut yang ke 2.Bahwa Congklak di puncak gunung boleng ini mau mengungkapkan bahwa sudah dipastikan dekat dengan Pemujaan disekitar congklak tersebut(Bernard)