17 Mei 2022

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Diduga Menggelapkan Uang Setoran Paket, PT. Kurir Pribadi Palembang Polisikan Mitra Kurirnya

Spread the love

Palembang | Tren24reportase.com – PT. Kurir Pribadi Palembang harus menanggung kerugian senilai hampir Rp. 9 Juta lantaran salah satu mitra kurirnya diduga melakukan penggelapan uang setoran paket yang sudah ditalangi oleh perusahaan tersebut.

PT. Kurir Pribadi Palembang (KPP) merupakan perusahaan ekspedisi lokal untuk area Palembang dan sekitarnya. KPP menggunakan sistem dana talangan untuk semua paketnya sehingga sebelum barang diantarkan ke customer sudah ditalangi terlebih dahulu oleh pihak KPP.

Supervisor SDM Vinny Sartika, S.Psi didampingi oleh kuasa hukumnya Rahmat Kurniansyah, S.H., CHRM dan Ubaidillah, S.H., M.H. mendatangi Polsek Sukarami Palembang pada Jum’at sore (24/9), guna melaporkan terduga penggelapan uang setoran paket atas nama M. Irfan.

Irfan terduga kasus penggelapan uang setoran paket ini beralamat di Jl. Letnan Kasnariansyah No. 1034 RT. 014 RW. 006 Kel. 20 Ilir D.IV Kec. Ilir Timut 1 Palembang.

Laporan kasus dari KPP ini telah diterima oleh KA SKPT RU II Aiptu Andrian dan tertulis dalam tanda bukti lapor dengan nomor : TBL / 1762 / IX / 2021 / SKPT / POLSEK SUKARAMI /POLRESTABES PALEMBANG / POLDA SUMSEL.

Terungkapnya kasus dugaan penggelapan uang setoran paket tersebut berawal pada hari Senin 13 September 2021, pengantaran paket yang diselesaikan pada hari itu seharusnya uangnya disetorkan ke admin keesokan harinya pada Selasa 14 September 2021 paling lambat pada jam 10 pagi. Akan tetapi sampai jam 10 pagi Irfan tak kunjung datang juga ke kantor untuk menyetorkan uang hasil pengantaran paketnya. Saat itu juga pihak KPP langsung menghubungi nomor HP Irfan tapi ternyata nomornya tidak bisa dihubungi.

Menurut penuturan pimpinan perusahaan KPP Meiza Putra Jaya, pada hari Selasa 14 September 2021 di hari penyetoran itu Irfan sempat mengajuan izin libur kerja dengan alasan ingin mendampingi istrinya yang akan melahirkan. Diketahui ternyata pada hari itu juga terungkap bahwa banyak customer yang komplain kepada perusahaan dikarenakan paketnya tak kunjung tiba pada hari Senin 13 September 2021 yang lalu.

Di hari Rabu 15 September 2021, Irfan kembali masuk kerja untuk menyelesaikan pengiriman paketnya yang sempat tertunda sebelumnya di hari Senin 13 September 2021. Namun pada jam 12 siang Irfan menghilang tanpa konfirmasi ke pihak perusahaan.

Meiza mengaku sebelum menempuh jalur hukum, pihaknya sudah terlebih dahulu mencoba menyelesaikan permasalahan dugaan penggelapan ini dengan cara kekeluargaan.

Dikatakan oleh Vinny dalam wawancaranya, pada hari Kamis 16 September 2021 dirinya mengaku telah mendatangi keluarga Irfan untuk memberikan surat laporan dugaan kasus penggelapan.

“Sebelum melaporkan ke polisi ini kita ada tindakan kekeluargaan, kita kirimkan surat pertama, surat hanya dibuka dan dibaca tapi gak diterima, dikembaliin,” ucap Vinny.

“Disitu adik kandungnya Irfan bilang katanya malam Minggu (18/9) mau kesini, kan kita kalau malam Minggu pulangnya malam, tapi kita tunggu dan sampai saat ini tidak ada komunikasi apapun,” tambahnya

Lantaran pengiriman surat yang pertama tidak diterima oleh pihak keluarga, pada hari Senin 20 September 2021 Vinny dan rekan-rekan dari KPP mencoba kembali penyelesaian masalah dengan mendatangi Ketua RT tempat Irfan tinggal.

“Kita kasih juga surat kedua untuk pembahasan kekeluargaan melalui RT, RT ini tidak mau terima, tidak mau terima RT nya,” ujar Vinny.

“Surat yang kedua itu kita gak kasih ke keluarga karena surat yang pertama itu kan ditolak, jadi kita langsung kasihkan ke RT nya, tapi RT nya kayak takut atau gimana gak ngerti jadi gak mau terima gitu,” sambungnya.

Melihat respon dari pihak keluarga terduga dan juga ketua RT yang tidak kooperatif dan terkesan kurang menanggapi serius kasus ini maka KPP menggunakan cara terakhir yaitu menempuh jalur hukum dengan melaporkan Irfan ke Polsek Sukarami.

“Karena tidak ada pembicaraan dengan baik, dengan kekeluargaan, maka kita laporkan ke polisi,” terang Vinny.

Kendati demikian, Meiza masih berusaha mencari informasi dengan bantuan dari rekannya terkait keberadaan Irfan. Didapatkan informasi bahwa Irfan sempat beberapa kali kedapatan pulang ke rumahnya sekitar jam 3 atau 4 fajar dan tidak lama langsung pergi lagi.

Meiza sangat menyayangkan tidak adanya upaya kooperatif dari pihak keluarga Irfan bahkan terkesan tidak menganggap serius permasalahan ini.

Meiza sedari awal berharap kasus ini dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan tetapi karena merasa tidak adanya iktikad baik dari keluarga Irfan maka dirinya terpaksa menggunakan cara terakhir yaitu melaporkan dan menyerahkan kasus ini untuk diproses sebagaimana mestinya kepada pihak yang berwajib.

“Kami ingin dari kejadian ini, kita jadikan ini sebagai role model, karena Senin nanti ada POM TNI akan datang penyuluhan, kita akan sampaikan juga kejadian ini bahwasannya perusahaan ini serius menindaklanjuti ini, jadi kawan-kawan yang lainnya jangan coba-coba sampai melakukan hal ini karena bakal merugikan, karena kalau sudah ada laporan selesai, antara cepat atau lambat akan terkena dampak sosialnya,” Terang Meiza. (Ade)