18 Mei 2022

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Puisi Bara Pattyradja Jadi Pilihan Poetry Reading Yang Dilombakan Di Adonara

Spread the love

Flores Timur, Tren24reportase.com – Menghidupkan Puisi di ruang publik, maka Komunitas Seni dan Budaya akan menggelar ‘Lomba baca puisi’ atau poetry Reading Award Di Adonara dari tanggal 25 – 27 September 2021.Puisi yang bakal diuji oleh para dewan juri pilihan berpengalaman dan nantinya akan digelar di padepokan K-Tanya Cafe dan Komunitas Baca Masdewa dengan kategori peserta Pelajar dan kategori Segala Umur alias terbuka untuk Umum berkesempatan ikut Lomba unjuk kebolehan dalam ber-apresiasi seni baca puisinya ‘Bara Pattyradja’ ini.

Pagelaran Acara Lomba ‘Poetry Reading’ ini dapat terjadi berkat dukungan orang orang hebat dari Anak Kandung Pertiwi Lamaholot yaitu : Mereka yang punya Kepedulian terhadap Seni Sastra dan Budaya dalam spesifikasi ‘Poetry Reading’, juga turut serta seorang Tokoh Perempuan analisis militet lndonesia Dr. Connie Rahakundini, Donnie Tokan,SE,MBA,MA sebagai inspirator kegiatan lomba ini. Masih banyak lagi Anak Lamaholot yang memiliki aura positip dalam setiap kesempatan mereka berada antara lain: Ahmad Yohan(DPR Rl),Muhamad ikram Ratuloly (DPRD), llyas Rahman (Laskar Muda AYO PEDULI BENCANA), Don Ara Kian (Arsitek), Anton Doni Dihen(Tokoh Muda Lamaholot), Rudy Tokan (Aktivis Sosial dan Pemred Media online Senitawan.com), Bung Padjri (pegiat seni).

MB Metha sebagai stage Manager Acara ini menjelaskan bahwa Agenda Kultural ini merupakan sebuah usaha upaya menghidupkan kembali Sastra dalam berpuisi dan berpuisi dalam sastra berbingkai Lamaholot, yang mana dalam tatarannya telah tergerus era globalis android dengan aplikasi magisnya ‘game online’. Hal senada disampaikan juga oleh Martha Muda selaku Project Officer kepada media menjelaskan bahwa Lomba yang digelar secara terbatas ini siap menerima 30 peserta sebagai langka awal memacu para pecinta seni sastra khususnya bagaimana kita dapat membawakan sebuah poetry reading ini di ruang publik, terangnya .

Ditambahkan pula bahwa “Kami sengaja menggelar ini di cafe agar kaum milenial tidak hanya sekedar nongkrong dengan secangkir kopi tapi dapat menumbuhkan gagasan yang jauh lebih bermartabat lagi lewat karya seni budaya di Negeri setengah Demokrasi ini”,ungkapnya. Menurut Martha bahwa karya karya puisi Bara Pattyradja ini sengaja dilombakan karena aspek budaya Lamaholot dalam setiap racikan kata katanya dengan menggunakan bahasa bahasa sederhana bak kita kita lamaholot saja. Sementara itu juga Pattyradja sangat cermat mengkritisi situasi sosial di Negeri setengah demokrasi ini. (Bernard)