6 Desember 2022

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

1.471 SMA dan SMK di Jawa Barat Laksanakan Pembelajaran Tatap Muka

Spread the love

Bandung, Tren24Reportase.com – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menyatakan bahwa 1.471 sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) di wilayahnya pekan ini sudah mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka.

“Yang buka PTM mulai pekan ini ada 1.471 sekolah (SMA/SMK), baik yang negeri atau swasta,” kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Dedi Supandi usai memantau pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di SMKN 9 dan SMKN 13 Kota Bandung, Rabu.

Dia menuturkan, persentase siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah pada masa pandemi COVID-19 hanya 25 persen di SMK dan 50 persen di SMA.

“Karena kalau SMK kan untuk yang praktik, jadi 25 persen karena keterbatasan alat. Tapi kalau SMA sudah di atas 50 persen,” kata dia.​​​​​​​

Menurut Dedi, di antara sekolah yang sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas ada yang menerapkan pola sif dan pola blok.

“Yang menggunakan sif misalnya mereka melakukan seperti di SMA masuk jam 07.00 keluar 10.30, setelah itu melakukan penyemprotan disinfektan. Dan ada teman-teman di SMK melakukan per pekan atau per blok,” kata dia.

​​​​​​​Guna mencegah munculnya klaster penularan COVID-19 di lingkungan sekolah, ia menjelaskan, setiap sekolah sudah membentuk satuan tugas untuk melakukan pengawasan selama pelaksanaan pembelajaran tatap muka.

“Kalau terjadi kasus (penularan COVID-19) di sekolah maka segera tangani, segera laporkan ke puskesmas atau ke Satgas COVID,” kata dia.

Para siswa yang telah berbulan-bulan mengikuti pembelajaran dari jarak jauh via daring menyambut pelaksanaan kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Siswa Kelas XII SMK Negeri 3 Kota Bandung Hasna Nabila mengaku lebih mudah memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru dalam pembelajaran tatap muka.

“Kalau PJJ (pembelajaran jarak jauh) atau online itu susah ya buat kita yang jurusan tata busana. Materinya kalau dikasih lewat online susah buat dipahami. Kalau tatap muka seperti sekarang ini baru bisa benar-benar paham,” kata Hasna. (nda)

About Post Author