1 Juli 2022

Tren24Reportase

Mengungkap Fakta Sampai Tuntas

Helanlangowuyo Siapkan Paket Wisata Budaya Menjawab Program Pariwisata Kabupaten Flores Timur

Spread the love

Flores Timur, Tren24reportase.com – Pemerintah Desa Helanlangowuyo mengundang para Tokoh Adat untuk melakukan pertemuan terbatas, bersama dua orang warganya Marselinus Mamun Tapo dan Bernadus Boro Bura bertempat di halaman depan rumah penjaga gunung Paulus Laga Ama pada hari minggu,4 juli 2021. Dalam pertemuan terbatas ini, Kepala Desa Helanlangowuyo Dominikus Daton Doni menyampaikan Maksud dan tujuan Pemerintah desa melibatkan para tokoh guna membahas dan menyuapkan diri lebih efektif dalam menjawab program pemerintah Kabupaten Flores Timur pada Dunia Pariwisata.

Daton Doni menjelaskan, bahwa keterlibatan para pihak seperti khususnya para tokoh adat di desa sangat menentukan keberhasilan sebuah program pembangunan layaknya Desa Helanlangowuyo sejak dikunjungi Badan Otorita Pariwisata RI dari Labuan Bajo beberapa waktu lalu, hingga hari ini Desa Helanlangowuyo dipilih jadi Desa Pariwisata Budaya. Hingga dalam perjalan waktu Pemda Flotim melakukan pra kondisi dengan mengundang 20 Desa di 19 Kecamatan se Kabupaten Flores Timur melakukan Pengenalan Obyek obyek Pariwisata yang dimiliki dari masing masing Desa sebagai daftar infentaris yang memiliki nilai jual pada bidang industri Pariwisata di Flores Timur. Dalam kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Wulangitan beberapa waktu lalu Desa Helanlangowuyo mengirimkan dua anak kandungnya yang bakal menjadi agen agen perubahan di dunia pariwisata budaya untuk desa Helanlangowuyo Kecamatan lle Boleng.

Sebelum diberikan kesempatan bagi kedua agen pariwisata ini melaporkan keikutsertaan mereka, salah seorang Tokoh meminta untu lebih dicermati lagi poin poin penting diantaranya melakukan pendakian ke puncak gunung. Dalam intermeso interupsi agenda bahasan yang bakal diperbincangkan, Paulus Laga Ama dengan mewanti wanti untuk dibahas ulang terkait paket wisata pendakian ke puncak gunung. Menurut Laga Ama bahwa “Persoalan pengunjung yang hendak ke puncak ini sebaiknya kita sama sama pikirkan agar tidak bakal mengulangi kesalahan yang sama seperti saat kini sedang merepotkan kita sekalian dan diharapkan agar pengunjung tidak melanggar pantangan dengan membawa perbekalan serta menjaga penuturan mereka saat berada di puncak gunung”, imbuhnya.

Kembali Kades Daton Doni menengahi kekuatiran penjaga gunung ini untuk meminta kedua Kader dan Agen Pariwisata untuk menyampaikan Hasil kegiatan dan menceritakan program Pariwisata Desa bagi Desa Helanlangowuyo. Marselinus Mamun yang dipersilahkan oleh Kepala Desanya untuk menyampaikan Apa saja hasil kegiatan di kabupaten. “Dari sekian Peserta yang menyatakan tentang Pengembangan Obyek wisata di desanya masing masing adalah dengan mematok ticket masuk dari harga ticketnya namun kita punya dalam mempresentasikannya bahwa kami tidak ada ticket masuknya namun kami akan menyiapkan beberapa paket dalam kemasan satu paket seperti paket budaya ini khusus di desa kami Helanlangowuyo terdiri dari lima kampung dalam satu desa administrasinya adalah Desa Helanlangowuyo”, urainya dihadapan para Tokoh Adat ‘lewo lema’ .

Linus Mamun menambahkan bahwa kekuatiran bapak bapak sekalian adalah wajar namun sekali lagi saya sampaikan bahwa mekanisme yang akan kita bangun bersama adalah Jalur Satu Pintu artinya bahwa semua pengunjung yang hendak melakukan pendakian ke puncak Gunung maka segala hal termasuk pantangannya dengan menjaga penuturannya itu adalah Tugas dari Agen Pariwisata yang terpusat pada titik Rumah Singgah yang mana pada kesempatan ini kita bakal membahas lebih jauh lagi.

Para Tokoh dari kampung adat lewo lemah ini yang kini mendiami Desa Administrasi Desa Helanlangowuyo memang memiliki keragaman budaya secara turun temurun yang hingga kini belum dikenal secara luas jenis budayanya masing masing yang mana telah menjalankan kehidupan secara bersama sama berabad lamanya dengan Rukun dan Damai hingga kini. Dalam kesempatan berinteraksi antara Tokoh Adat dengan kedua Agen Pariwisata ini salah seorang ketua suku Taran Wanan Mathias Mangu berpendapat bahwa “Kira kira Apa saja yang harus dipersiapkan dan bagaimana dengan lokasi kita yang memang ada titik sentral yang tidak bisa kita sentuh bahkan merubah postur tampilannya”,tanya Mangu kepada forum rapat.

Kembali Marselinus menjelaskan bahwa ” Kami tidak bermaksud untuk masuk ke ranah substansi Adatnya tapi kami sebatas Agen Pariwisata dan jika memang bapak bapak sebagai Empunya dapat melakukan komunikasi internal maka kami hanya mengamini saja, dan karena seperti hal hal Prinsipil inilah kami harus bergandengan dengan bapak bapak sekalian, dan hingga kepada muncul pertanyaan terhadap salah satu obyek budaya bagi pengunjung pun kami hanya mengarahkan untuk berhadapan langsung dengan bapak bapak sekalian agar tidak terjadi kesalahan dalam menjawab”,terangnya. Pada kesempatan berikut Bernad Boro kembali menggarisbawahi tentang kekuatiran para Tokoh Adat dengan bakal ada rumor kami menjual Desa Adat di Lama Helan, maka hal itu adalah pendapat yang keliru.

Menurut Bernad Boro bahwa ” Kami justru melakukan proses Edifikasih terhadap Tatanan Budaya Kita Lamaholot khususnya di Desa Helanlangowuyo ini yang memiliki keunikan beragam dari gabungan budaya adat ‘Lewo Lema’ dalam satu Desa yaitu Desa Helanlangowuyo ini dan yang kami butuhkan saat kini adalah kerjasama kita yang berkelanjutan agar kita dapat menjadi pembawa perubahan secara estafet untuk generasi kita kedepan”,urai Bernad Boro penuh optimis dihadapan para tokoh adat yang hadir. Seperti di saksikan wartawan tren24reportase.com, kebersamaan dalam perbedaan berpendapat tentang ‘Budaya Adat’ yang dijadikan sebuah obyek wisata pada era kekinian adalah sebuah perubahan yang tidak lazim bagi para Tokoh Adat Desa Helanlangowuyo namun berkat Penjelasan kedua Agen Pariwisata Desa ini menjadi hal yang terangbenderang bagi para Tokoh Adat ‘Lewo Lema’.

Adapun kehadiran sembilan Tokoh Penting dalam Desa Helanlangowuyo ini antara lain : Tokoh Adat Taran Wanan dan Taran Nekin dari Lewo Belè , Lewo Tapo Bali , Lewo Nuba Lewo Lolon, Lewo Nuba Lewo Lein, Lewo Wutuk, Lewo Belè Lewo Lein, serta punggawa gunung bukit atau ‘Mehenè ile wokaye’ . Pada bagian akhir pertemuan terbatas ini Kepala Desa Helanlangowuyo menyampaikan sembah sungkem permohonan maaf jika selama kurang lebih 10 tahun ini telah banyak mengabaikan bapak bapak sebagai pilar Kedamaian Desa kita,sebagai pilar kekuatan Desa Helanlangowuyo ini; dari sinilah saya mohon ditunjuk ajar demi kebijaksanaan bapak bapak agar ke depan Generasi Helanlangowuyo tetap selalu Berbudaya dengan Kebudayaan yang beragam ini. Bernard NG